(Dengan judul yang berbeda, posting ini juga dimuat di rumahkayu)
SEBUAH kisah fiksi ternyata ada harganya. Dan harganya cukup mahal, yakni perginya seorang sahabat baik.
Bagi teman-teman yang tak sempat mengetahui, hal ini bermula ketika ella menulis sebuah kisah fiksi tentang mou. Kisah mou merupakan ‘kelanjutan’ dari posting sebelumnya, yang tokoh utamanya adalah para blogger: mou, luv, julie dan (ehm) kuti.
Sebenarnya, tak ada yang salah soal posting fiksi itu. Karena dalam dunia fiksi, ada ‘aturan’ yang mengatakan segala sesuatu dimungkinkan. Artinya dalam fiksi kita bisa menemukan orang yang bisa terbang, atau seseorang yang menjadi manusia api karena terkena radiasi, manusia planet, robot yang menguasai dunia, manusia yang bisa menghilang dsb.
Artinya, orang tak akan protes kenapa Superman bisa terbang, karena itu kisah fiksi. Atau kenapa Harry Potter bisa punya ilmu sihir. Dan kenapa Wolverine sudah berusia lebih dari seratus tahun.
Bicara soal fiksi, aku mengagumi Dan Brown, terutama karyanya Da Vinci Code. Aku kagum karena Brown bisa menciptakan sebuah novel yang sebenarnya fiksi namun akhirnya diyakini jutaan orang sebagai suatu kebenaran. Tak ada yang lebih luar biasa jika sebuah karya fiksi diyakini sebagai kebenaran.
Namun Da Vinci Code menyulut kontroversi. Kenapa? Karena Brown memasukkan person real, artinya yang benar-benar (pernah) ada dalam novelnya, yakni Jesus Kristus, Maria Magdalena dan Leonardo Da Vinci. Apalagi gambaran versi fiksi berbeda dengan realitas yang diyakini banyak orang.
Jadi fiksi bisa menyulut kontroversi jika sudah bersinggungan dengan person yang benar-benar ada, yang dimasukkan dalam cerita. Karena akan ada perbedaan realita, yang bisa membuat pembaca bingung.
Dan hal ini, dalam kadar tertentu, ada pada postingan ella.
Kedua posting ella itu merupakan cerita dewasa. Berkisah tentang gaya pacaran (atau perselingkuhan?) yang dilakukan orang-orang bernama mou, luv dan kuti.
Apakah aku keberatan nama kuti dilibatkan? Tidak. Sekali lagi tidak. Aku pernah menuliskan ini di komentar posting ella (yang sekarang sudah diproteksi). Selama ini kuti adalah figur yang sebenarnya anonim. Di dunia maya hanya ada dua orang yang tahu kalau kuti punya blog lain selain s3lingkuh, hanya dua orang yang tahu kuti persisnya tinggal di daerah mana (salah satu dari orang ini berbeda dengan yang pertama), namun hanya satu orang yang pernah melihat seperti apa wajahnya….
Jadi kalau di dalam posting ella dikatakan kuti pacaran dengan luv, ya gak masalah (aku yakin semua laki-laki pasti akan senang jika diceritakan pacaran dengan luv…hehe… walau itu tentu saja ‘too good to be true’… hehe…). Itu karena kuti selama ini tampil anonim.
Lain soal jika aku punya blog lain di blogdetik, aku pasang foto besar di banner, di sidebar aku pasang foto istri dan si kecil (maksudnya istri dan anak di dunia nyata), maka aku pasti akan keberatan jika dalam postingan blog lain aku dibilang pacaran dengan luv, secantik apapun si luv. Karena ini sudah menyangkut image. Apalagi jika tampangku sudah wara-wiri di setiap postingan tentang kopi darat.
Karena tetap ada kemungkinan ada pihal lain, yang hanya mengenal sepintas, yang bisa mengacaukan figur kuti dalam postingan dengan di dunia nyata. Karena bagi sebagian orang, batas antara fiksi dan realita sesungguhnya sangat tipis.
Itu hal pertama.
Hal kedua, aku akhirnya menemukan satu fakta, bahwa masih banyak di antara kita yang tidak nyaman dengan perbedaan pendapat. Yang menganggap bahwa yang bersuara lain itu sebagai musuh. Ketika banyak pihak kompak bersuara “do” dan tiba-tiba muncul suara “sol”, banyak yang manganggap yang bersuara “sol” itu tidak tahu diri. (Padahal sebenarnya do dan sol itu bisa menjadi harmoni).
Apa salahnya berbeda pendapat? Apa salahnya dengan memberi koreksi? Dan kenapa ada yang menginginkan koreksi harus disampaikan lewat jalur pribadi? Kenapa ketika kita memuji itu dimuat di komentar dan ketika kita memberi koreksi harus disampaikan lewat pintu belakang?
Aku bersyukur karena yang bersuara “lain” itu hanya dee. Yang memang bermaksud baik. Bagaimana jika orang lain? Bisakah dibayangkan jika misalnya posting itu menjadi blog pilihan atau nampang di halaman pertama blogdetik?
Di blog ini aku pernah merasakan ketika postingan tentang ciuman di kantor tiba-tiba dikunjungi ratusan orang, dan yang berkomentar lebih dari 100 orang, dan hampir 30 diantaranya terpaksa di-delete karena terlalu mengerikan. Padahal yang aku posting ‘hanya’ bertema ciuman di kantor. Bukan ML atau sebangsanya.
Untung ella sudah memproteksi posting itu. Semoga bukan semata agar dee tak bisa lagi berkomentar, tapi terutama menjaga agar tidak ada pihak lan yang ikutan bersuara. Di s3lingkuh ini aku sudah ‘kenyang’ dengan berbagai komentar yang bahkan sempat membuat aku berpikir untuk men-delete blog.
Oh ya, terkait blog yang di-delete, aku sangat sedih karena mou akhirnya memilih untuk meniadakan suarahatiku.blogdetik.com, Padahal baru beberapa hari lalu aku berkomentar di blog itu ketika mou menulis review tentang film Angels & Demons. Aku sedih karena telah kehilangan satu blog yang bernas, dan terlebih kehilangan sahabat baik.
Mou dan luv dulu adalah pembaca setia s3lingkuh yang akhirnya memutuskan untuk ngeblog (luv menuliskan hal ini dengan sangat indah dalam posting terbaru di blognya). Sangat menyenangkan mengetahui ada teman yang akhirnya membuat blog, namun sangat menyedihkan mengetahui ada teman yang akhirnya menghapus blognya. (Padahal aku sudah berencana untuk dalam waktu dekat akan copy darat dengan mou—bersama luv tentunya… Sayang ini tinggal rencana… hehe)
Apakah sebuah kisah fiksi sebanding dengan hilangnya seorang sahabat? Apakah koreksi seorang teman harus dibayar semahal itu?
Tidak. Tentu tidak.
Karena itu, kami, aku dan dee berharap, jika mou membaca posting ini, jika emosi dan rasa sakit di dada sudah mereda, kembalilah ngeblog….